.::Wilujeung Sumping di Website Agus Muhar::.

Semoga site gratisan ini bukan hanya menambah literatur-literatur dalam dunia kepenulisan, tetapi juga lebih khusus untuk menambah khazanah keilmuan keislaman, karena di masa kebangkitan seperti sekarang ini (menurut sejarah islam) yang sebelumnya Islam di Andalusia (Spanyol) begitu kuat dan hebatnya, harus tunduk dan hancur oleh kaum Hulagu dari bangsa Bar-Bar, oleh karena itu kita pun di harapkan untuk selalu berkarya, baik melalui dunia kepenulisan, dunia jurnalistik maupun yang lainnya, karena memang tidak bisa kita pungkiri bahwa Islam khususnya yang ada di Indonesia ini sangat butuh dengan orang-orang yang profisional dalam bidangnya masing-masing.

Nah...site ini pun tampil untuk menunjukkan bahwa kami ingin menambah khazanah keislaman dalam berkarya, walaupun hanya sebutir debu di padang pasir, tetapi akan sangat bermakna jika kita mendalaminya, Amin

Sabtu, 20 Maret 2010

Peranan Ayam Kampung Sebagai Food Security Pengentas Kemiskinan di Indonesia

*Efda Y R, Agus Muhar, Azhari N

Ayam kampung merupakan ternak lokal yang memiliki potensi yang sangat besar yakni sebagai sumber pendapatan keluarga, sumber pangan hewani (daging dan telur), untuk kesenangan (hias, “penyanyi”, aduan), aset biologis (plasma nutfah), aset religius dan digunakan dalam ritual pengobatan selain itu ayam kampung memiliki keunggulan dalam hal resistensi terhadap penyakit,r esistensi terhadap panas serta memiliki kualitas daging dan telur yang lebih baik dibandingkan dengan ayam ras.
Resistensi ayam kampung terhadap penyakit telah teruji berdasarkan hasil riset Laboratorium DNA Puslit Zoologi LIPI yang menyatakan bahwa ayam lokal Indonesia memiliki tingkat resisten atau daya tahan cukup tinggi terhadap infeksi Virus Flu Burung (Avian Influenza) dibandingkan ayam jenis lainnya didunia seperti ayam lokal Cina, ayam lokal Afrika dan ayam broiler. Dari analisis DNA yang dilakukan terhadap ayam lokal menunjukkan bahwa frekwensi alel A yang resisten terhadap Virus AI (Avian Influenza) berkisar antara 0,35 – 0,89.dari 16 populasi breed ayam lokal yang diteliti ternyata ayam yang paling resisten terhadap penyakit AI adalah ayam cemani (0,88), ayam kampung (0,72), ayam kampung Banten (0,63), ayam kate (0,65) dan ayam yang paling rentan adalah ayam kapas (0,35).
Tingginya resisten ayam kampung terhadap penyakit menunjukkan bahwa ayam kampung memiliki kemampuan yang sangat besar untuk dikembangkan. Hal ini dapat dilihat pada saat flu burung mulai mewabah, ayam kampung mampu bertahan sehingga populasinya tidak mengalami penurunan yang drastis jika dibandingkan dengan ayam ras petelur dan pedaging tetapi dengan adanya kebijakan pemerintah untuk memusnakan semua ayam yang terdapat didaerah yang terwabah Virus Flu burung mengakibatkan terjadinya penurunan populasi yang sangat drastis yakni dengan melalui pemusnahan baik dibakar maupun dikubur seharusnya hal ini harus dipertimbangkan oleh pemerintah sebelum mengambil keputusan. Ayam kampung yang merupakan flasma nutfah bagi Indonesia yang populasinya harus dipertahankan bahkan ditingkatkan karena itu kebijakan yang telah ditetapkan harus dikaji ulang kembali karena jika pemusnahan terhadap ayam kampung tetap dilakukan dengan kontinue maka flasma nutfah ayam kampung akan punah dan potensi yang dimilikinya akan musnah, padahal dengan potensi yang dimiliki dapat dijadikan sumber pandapatan keluarga.
Potensi yang dimilki ayam kampung menggambarkan pentingnya ayam kampung untuk dikembangakan dalam mengatasi kemiskinan dan malnutrisi yang ada dimana pada bulan februari 2007 menunjukkan bahwa tingkat kemiskinan di Indonesia mancapai 37,17 juta (16,58%) dan sebagian besar (63,52%) berada dipedesaan, hal ini jelas sangat ironis karena desa yang merupakan notabane sebagi sumber penghasil makanan tapi kenyataannya terbalik dengan harapan.
Selain itu angka malnutrisi yang terjadi di Indonesia menunjukkan jumlah yang sangat memprihatinkan bagi bangsa yang dikenal kaya dengan sumber daya alam, meskipun kenyataan berkata lain masih banyak masalah yang mendera bangsa ini hal ini terbukti dengan jumlah balita yang mengalami malnutrisi di Indonesia bulan frebruari 2007 mencapai 10,55 juta orang dan jumlah balita yang mengalami gizi buruk pada tahun 2006 mencapai 2.3 juta balita selain itu berdsasarkan data dari UNICEF pada tahun 2005 jumlah balita yang mengalami gizi buruk sebesar 1.8 juta dan pada beberapa daerah terlihat DKI Jakarta mencapai 6516 balita dan di Sumatra Barat 1,3% dari balita dan status gizi buruk.
Dengan tingginya tingkat kemiskinan dan malnutrisi ini maka peran dari ayam kampung bisa dijadikan sebagai solusi karena dari potensinya yang berperan sebagai sumber ketahanan pangan yang mampu menyuplai protein hewani,baik berupa daging dan telur sehingga malnutrisi dan kemiskinan bisa diatasi, karena menurut Hardjosworo dalam Rusfidra (2007) mengindentifikasi empat faktor penting penyebab rendahnya konsumsi protein hewani, yaitu 1) mahalnya harga pangan asal ternak bila diukur dari rata-rata pendapatan sebagai masyarakat Indonesia, 2) tidak meratanya ketersediaan daging, susu dan telur dipenjuru tanah air, 3) pengaruh kemampuan produksi dalam negeri terhadap konsumen protein hewani, dan 4) selera selektif dari masyarakat Indonesia.
Oleh karena itu, untuk mengatasi malnutrisi ini diperlukan peningkatan konsumsi protein hewani yakni meningkatkan pendapatan rumah tangga dan kesadaran gizi masyarakat. Protein hewani standar rataan dunia yakni 26 g/kapita/hari, sedangkan Indonesia hanya mampu mentargetkan 6,0 g/kapita/hari dan lebih ironisnya yang tercapai hanya 4,5 g/kapita/hari jika dilihat dengan konsumsi daging unggas Indonesia hanya mengkonsumsi 3,5 kg/kapita/tahun sedangkan Malaysia 36,7 kg/kapita/tahun, Thailand 13,5 kg/kapita/tahun, Filipina 7,6 kg/kapita/tahun, Vietnam 4,6 kg/kapita/tahun dan Myanmar 4,2 kg/kapita/tahun.
Bila satu kilogram telur rata-rata terdiri dari 17 butir maka konsumsi telur penduduk Indonesia adalah 46 butir/kapita/tahun atau 1/8 butir/kapita/hari Indonesia hanya mengkonsumsi telur 2,7 kg/kapita/tahun, Malaysia 14,4 kg/kapita/tahun, Kamboja 12,5 kg/kapita/tahun, Bangladesh 31,5 kg/kapita/tahun dan India mencapai 60,0 kg/kapita/tahun artinya jika dibandingkan Indonesia dengan malaysia konsumsi daging unggas penduduk Indonesia hanya 10 g/kapita/hari, sedangkan Malaysia 100 g/kapita/hari.
Rendahnya konsumsi protein hewani penduduk Indonesia jelas sangat memprihatinkan terhadap masa depan bangsa karena protein hewani memiliki peran penting dalam melahirkan generasi SDM yang berkualitas yang mampu bersaing di percaturan dunia jika dilihat manfaat protei hewani ini sangat besar yakni untuk pertumbuhan otak anak balita, agar berkembang secara optimal dan tidak sampai tulalit, meningkatkan kecerdasan, menjaga stamina tubuh, regenarasi sel, agar eritrosit tidak mudah pecah. sedangkan jika terjadi defisiensi protein hewani maka bisa menyebabkan terganggunya pertumbuhan, resiko sakit tinggi, perkembangan mental terganggu, performa anak sekolah menurun dan menganggu produktifitas pekerja.
Selain itu Prof.I.K.Han (1999) menyatakan terdapat relasi positif tingkat konsumsi protein hewani dengan umur harapan hidup (UHH) dan PDB suatu Negara oleh karena itu, jika konsumsi protein hewani orang Indonesia tidak dipacu kearah ideal (26 /kapita/hari), maka hanya dalam satu generasi (25 tahun), orang Singapura,Vietnam, Malaysia, dan Kamboja akan lebih tinggi, lebih kuat dan lebih cerdas dari masyarakat Indonesia (Yudohusodo, 2007) karena ketahanan pangan perlu dilakukan dan konsep ketahanan pangan atau food security biasanya diukur dalam dua tataran yakni makro (nasional) dan mikro (rumah tangga) dengan ketahanan pangan yang ideal adalah ketahanan pangan pada tingkat rumah tangga.
Dengan adanya konsep ketahanan pangan dengan skala rumah tangga yang berbasis ayam kampung maka kemiskinan bisa diatasi karena dengan pengembangan ayam kampung tidak hanya protein hewani terpenuhi tapi juga sebagai penghasil uang tunai bagi keluarga miskin.

Family Poultry Dapat Mangatasi Kemiskinan
Family Poultry yang merupakan program organisasi pangan dan pertanian dunia atau FAO yang bertujuan untuk mendukung tersedianya sumber protein hewani sebagai sumber pendapatan dan pengentasan kemiskinan pada tingkat rumah tangga dinegara-negara berkembang. Program ini dikembangkan dinegara-negara sub-Sahara Afrika, Asia tenggara, Asia Selatan dan Amerika Selatan dengan menjadikan ayam kampung sebagai sumber protei hewani dan pendapatan keluarga.
Program family poultry sangat populer di Afrika dimana 90% rumah tangga di Afrika memiliki ayam kampong (village chicken) di Mozambik ayam dipelihara secara tradisional telah menunjukkan peran penting dalam mengatasi kemiskinan dan ketahanan pangan pada tingkat rumah tangga selain itu Vietnam dengan jumlah penduduk 78 juta jiwa dengan mata pencaharian utama penduduk bertani (sebesar 80%). Subsektor peternakan menyumbang 27% terhadap sektor pertanian dengan menjadikan ternak unggas sebagai bagian integral dari kehidupan masyarakat pedesaan dan memiliki fungsi sosial yang penting pada tahun 2000 populasi unggas sekitar 196 juta ekor dengan produksi mencapai 270.000 ton. sebanyak 75 % ayam dipelihara dalam skala rumah tangga dengan sisten ekstensif. Setiap warga pedesaan rata-rata memiliki ayam kampung 10-20 ekor. Ayam kampung berperan sebagai sumber pangan hewani (daging dan telur), uang tunai (penjualan ayam, telur dan ayam pembibit) dan sumber bibit untuk usaha berikutnya.
Dengan adanya keberhasilan pengembangan program family poultry yang berbasis ayam kampung dengan skala rumah tangga di beberapa negara berkembang maka program family poultry dapat dijadikan sebuah solusi untuk mengatasi kemiskinan di Indonesia. Jenis ternak yang akan dikembangkan adalah ayam kampung yang merupakan ayam yang banyak dipelihara di daerah pedesaan yang umumnya ditemukan hidup dan berkembang di kampung-kampung tempat dimana manusia bermukim dengan daging dan telurnya digemari oleh masyarakat karena rasa yang khas, gizi tingi, gurih, selain itu sangat mudah dalam pemeliharaannya dimana ayam kampung dapat memanfaatkan pakan dari sisa manusia.
Populasi ayam kampung yang diduga sekitar 300 juta ekor yang tersebar dari perkotaan sampai pelosok negeri jika dimulai secara ekonomis bisa diasumsikan satu ekor ayam kampung Rp 35.000,00 maka total nilainya 10,5 triliun. Hal ini bahwa ayam kampung memiliki peran penting sebagai sumber pendapatan keluarga, sumber pangan hewani (daging dan telur), untuk kesenangan (hiasan, aduan, ayam “penyanyi”), aset biologis (plasma nutfah), aset religius dan digunakan dalam ritual pengobatan selain itu, ayam kampung juga merupakan plasma nutfah ayam asli Indonesia yang harus dikembangkan dan dilestarikan.
Bila ayam kampung dipelihara dengan baik maka ayam tersebut akan memainkan peranan penting sebagai protein hewani (daging dan telur) dan sebagai sumber pendapatan bagi rumah tangga miskin, sehingga kasus malnutrisi dapat diatasi secara sistematis. Oleh karena itu, program family poultry layak ditimbang sebagai sebuah solusi praktis dalam mengatasi kasus gizi buruk, efektif dalam pengentasan kemiskinan dan menjaga ketahanan pangan pada tingkat rumah tangga bagi 15,5 juta rumah tangga miskin di Indonesia (Rusfidra, 2008). Dilihat dari tujuan pemeliharaannya maka tujuan terbesar pemeliharaan ayam kampung menurut (Attch, 1989) yakni sebagai sumber uang tunai dengan konsumsi sebesar 45%, konsumsi rumah tangga 28%, sebagai uang tunai 11%, uang tunai dan relegulitas 11%, upacara keagamaan 3 %, ornamental (hiasan) 1 %.



*Penulis adalah pengurus aktif Lembaga Kajian Ilmiah Mahasiswa
UNAND Periode 2009-2010