.::Wilujeung Sumping di Website Agus Muhar::.

Semoga site gratisan ini bukan hanya menambah literatur-literatur dalam dunia kepenulisan, tetapi juga lebih khusus untuk menambah khazanah keilmuan keislaman, karena di masa kebangkitan seperti sekarang ini (menurut sejarah islam) yang sebelumnya Islam di Andalusia (Spanyol) begitu kuat dan hebatnya, harus tunduk dan hancur oleh kaum Hulagu dari bangsa Bar-Bar, oleh karena itu kita pun di harapkan untuk selalu berkarya, baik melalui dunia kepenulisan, dunia jurnalistik maupun yang lainnya, karena memang tidak bisa kita pungkiri bahwa Islam khususnya yang ada di Indonesia ini sangat butuh dengan orang-orang yang profisional dalam bidangnya masing-masing.

Nah...site ini pun tampil untuk menunjukkan bahwa kami ingin menambah khazanah keislaman dalam berkarya, walaupun hanya sebutir debu di padang pasir, tetapi akan sangat bermakna jika kita mendalaminya, Amin

Minggu, 21 Februari 2010

Pemanfaatan Jerami Padi sebagai Pupuk Organik In Situ untuk Mengurangi Penggunaan Pupuk Kimia dan Subsidi Pupuk

Pendahuluan

Budi Daya Padi Sehat, Permasalahan pupuk hampir selalu muncul setiap tahun di negeri ini. Permasalahan tersebut antara lain adalah kelangkaan pupuk di musim tanam, harga pupuk yang cenderung meningkat, beredarnya pupuk palsu, dan beban subsidi pemerintah yang semakin meningkat. Beberapa upaya dan program telah digulirkan oleh pemerintah melalui Departemen Pertanian RI. Sebagai contoh, subsidi pupuk kimia untuk petani, namun implementasi di lapangan masih banyak penyelewengan yang merugikan petani dan pemerintah.

Alternatif pupuk kimia adalah pupuk organik. Petani di dorong untuk menggunakan pupuk organik sebagai penganti/alternatif pupuk kimia. Baru-baru ini Deptan juga mengeluarkan kebijakan untuk memberikan subsidi pupuk organik. Penyediaan pupuk organik diserahkan kepada BUMN atau perusahaan pupuk besar dengan mekanisme penyediaan yang mirip dengan pupuk kimia. Dikawatirkan masalah yang terjadi pada pupuk kimia akan terulang pada penyediaan pupuk organik granul ini apabila masih melibatkan perusahaan-perusahaan pupuk kimia. Beberapa tahun sebelumnya pemerintah juga pernah mengeluarkan program GO ORGANIK 2010, tetapi gaung program ini seperti kurang terdengar.

Penggunaan pupuk kimia secara intensif oleh petani selama beberapa dekade ini menyebabkan petani sangat tergantung pada pupuk kimia. Di sisi lain, penggunaan pupuk kimia juga menyebabkan kesuburan tanah dan kandungan bahan organik tanah menurun. Petani melupakan salah satu sumber daya yang dapat mempertahankan kesuburan dan bahan organik tanah, yaitu: JERAMI. Pemanfaatkan jerami sisa panen padi untuk kompos secara bertahap dapat mengembalikan kesuburan tanah dan meningkatkan produktivitas padi.

Diperkirakan kandungan bahan organik di sebagian besar sawah di Pulau Jawa menurun hingga 1% saja. Padahal kandungan bahan organik yang ideal adalah sekitar 5%. Kondisi miskin bahan organik ini menimbulkan banyak masalah, antara lain: efisiensi pupuk yang rendah, aktivitas mikroba tanah yang rendah, dan struktur tanah yang kurang baik. Akibatnya produksi padi cenderung turun dan kebutuhan pupuk terus meningkat. Solusi mengatasi permasalah ini adalah dengan menambahkan bahan organik/kompos ke lahan-lahan sawah. Kompos harus ditambahkan dalam jumlah yang cukup hingga kandungan bahan organik kembali ideal seperti semula

Nilai Hara dan Nilai Ekonomi Kompos dari Jerami Padi

Menurut Kim dan Dale (20041) potensi jerami kurang lebih 1,4 kali dari hasil panen. Rata-rata produktivitas padi nasional adalah 48,95 ku/ha, sehingga jumlah jerami yang dihasilkan kurang lebih 68,53 ku/ha. Produksi padi nasional tahun 2008 sebesar 57,157 juta ton (Deptan, 20092), dengan demikian produksi jerami nasional diperkirakan mencapai 80,02 juta ton. Potensi jerami yang sangat besar ini sebagian besar masih disia-siakan oleh petani. Sebagian besar jerami hanya dibakar menjadi abu, sebagian kecil dimanfaatkan untuk pakan ternak dan media jamur merang.

Pemanfaatan jerami dalam kaitannya untuk menyediakan hara dan bahan organik tanah adalah merombaknya menjadi kompos. Rendemen kompos yang dibuat dari jerami kurang lebih 60% dari bobot awal jerami, sehingga kompos jerami yang bisa dihasilkan dalam satu ha lahan sawah adalah sebesar 4,11 ton/ha. Andaikan semua jerami dibuat kompos akan dihasilkan kompos sebanyak 48,01 juta ton secara nasional.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia (BPBPI) kandungan hara kompos jerami adalah sebagai berikut:
Rasio C/N 18.88
C- organik (%) 35.11
N (%) 1.86
P2O5 (%) 0.21
K2O (%) 5.35
Kadar air (%) 55%

*) data kandungan hara berdasarkan berat kering kompos

Dari data analisa di atas, kompos jerami memiliki kandungan hara setara dengan 41,3 kg Urea, 5.8 kg SP36, dan 89,17 kg KCl per ton kompos atau total 136,27 kg NPK per ton kompos kering. Jumlah hara ini kurang lebih dapat memenuhi lebih dari setengah kebutuhan pupuk kimia petani. Di tingkat nasional, potensi nilai hara dari kompos jerami adalah setara dengan 1,09 juta ton Urea, 0,15 juta ton SP36, dan 2,35 juta ton KCl atau total 3,6 juta ton NPK. Jumlah ini kurang lebih 45% dari konsumsi pupuk nasional yang mencapai 7,9 juta ton tahun 2007 (APPI, 20093). Jika kandungan hara ini dinilai dengan harga pupuk kimia (HET4), maka kompos jerami secara nasional bernilai Rp. 5,42 Trilyun.

Kompos jerami memiliki potensi hara dan nilai ekonomi yang sangat besar. Pemanfaatan kompos jerami ini oleh petani dapat menghemat pengeluaran negara untuk subsidi pupuk dan mengurangi konsumsi pupuk kimia nasional. Namun, potensi ini sepertinya kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah, khususnya Departemen Pertanian.
Strategi Pemanfaatan Jerami Padi sebagai Pupuk Organik

Beberapa waktu sebelumnya pengomposan jerami pernah digalakkan, namun program ini kurang berjalan dengan baik karena beberapa hal. Salah satunya adalah teknik pengomposan yang tidak sederhana dan menyulitkan petani. Misal, anjuran untuk mencacah jerami sebelum dibuat kompos dengan mesin cacah. Cara ini mudah dilakukan apabila tersedia mesin cacah dan lokasinya dekat. Apabila lokasi sawah jauh dari jalan, seperti di Kerawang atau Karanganyar, petani tidak mungkin membawa mesin cacah ke tengah sawah. Akhirnya petani tidak mau untuk membuat kompos jerami.

Pembuatan kompos jerami dianjurkan untuk menambahkan pupuk kandang atau beberapa bahan tambahan lain, seperti: kapur, molasses, dan lain-lain. Pupuk kandang tidak selalu tersedia dalam jumlah cukup, demikian pula molasses yang tidak tersedia di sebagian besar wilayah pertanian. Ketidak tersediaan bahan-bahan tambahan tersebut juga membuat petani tidak mau untuk membuat kompos jerami.

Berdasarkan beberapa pengalaman tersebut di atas, pembuatan kompos jerami harus dapat dilakukan dengan cara yang sederhana, murah, dan mudah, seperti:

1.Pengomposan jerami dibuat di lokasi di mana jerami di panen.

2.Pengomposan jerami dilakukan tanpa pencacahan dan tanpa penambahan bahan-bahan lain yang sulit diperoleh oleh petani.

3.Pengomposan jerami dapat dibuat dengan biaya yang semurah mungkin dan tidak membutuhkan banyak tenaga kerja.

4.Pengomposan jerami tidak memerlukan mesin atau alat yang rumit dan mahal. Pengomposan jerami harus bisa dibuat dengan peralatan sederhana yang tersedia di sekitar sawah atau mudah diperoleh oleh petani.

Secara alami proses pengomposan jerami akan berlangsung dengan sendirinya apabila kondisinya ideal, seperti kadar air yang cukup (kurang lebih 60%) dan aerasi yang lancar. Proses alami pengomposan jerami kurang lebih dua hingga tiga bulan. Untuk mempercepat proses pengomposan jerami dapat ditambahkan aktivator pengomposan. Penambahan aktivator pengomposan dapat mengurangi lama pengomposan hingga tiga sampai empat minggu. Waktu pengomposan ini kurang lebih sama dengan waktu jeda antara panen dengan waktu tanam berikutnya.
Multimanfaat Pemanfaatan Jerami Padi sebagai Pupuk Organik

Manfaat kompos jerami tidak hanya dilihat dari sisi kandungan hara saja. Kompos juga memiliki kandungan C-organik yang tinggi. Penambahan kompos jerami akan menambah kandungan bahan organik tanah. Pemakaian kompos jerami yang konsisten dalam jangka panjang akan dapat menaikkan kandungan bahan organik tanah dan mengembalikan kesuburan tanah.

Bahan organik tanah menjadi salah satu indikator kesehatan tanah karena memiliki beberapa peranan kunci di tanah. Peranan-peranan kunci bahan organik tanah dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok5, yaitu:

A.Fungsi Biologi:

menyediakan makanan dan tempat hidup (habitat) untuk organisme (termasuk mikroba) tanah

menyediakan energi untuk proses-proses biologi tanah

memberikan kontribusi pada daya pulih (resiliansi) tanah

B.Fungsi Kimia:

merupakan ukuran kapasitas retensi hara tanah

penting untuk daya pulih tanah akibat perubahan pH tanah

menyimpan cadangan hara penting, khususnya N dan K

C.Fungsi Fisika:

mengikat partikel-partikel tanah menjadi lebih remah untuk meningkatkan stabilitas struktur tanah

meningkatkan kemampuan tanah dalam menyimpan air

perubahahan moderate terhadap suhu tanah

Fungsi-fungsi bahan organik tanah ini saling berkaitan satu dengan yang lain. Sebagai contoh bahan organik tanah menyediakan nutrisi untuk aktivitas mikroba yang juga dapat meningkatkan dekomposisi bahan organik, meningkatkan stabilitas agregat tanah, dan meningkatkan daya pulih tanah.

Penggunaan kompos jerami secara rutin dapat menurunkan penggunaan pupuk kimia, seperti yang telah dibuktikan oleh Bp. H. Zakaria, KTNA Kab. Bogor. Bertahun-tahun sebelumnya Pak H. Zaka menggunakan pupuk kimia sebanyak 150 – 200 kg NPK/ha. Setelah menggunakan kompos jerami selama kurang lebih 5 – 6 kali musim tanam dosis pupuk kimia dapat dikurangi hingga dosis 75 kg NPK/ha. Produksi padi cenderung tetap, tetapi kualitas padi yang dihasilkan meningkat, seperti: padi lebih pulen dan tidak cepat basi.
Tantangan-tantangan Pemanfaatan Jerami oleh Petani

Petani Indonesia memiliki kebiasaan membakar jerami sisa-sisa panen. Alasannya adalah lebih cepat dan murah untuk membersihkan sisa panen tersebut. Kebiasaan ini tidak mudah dirubah. Petani juga memiliki karakter untuk melihat bukti terlebih dahulu kemudian baru mengikuti.

Menggalakkan kompos jerami ke petani memerlukan usaha yang komprehensif dan berkesinambungan. HMP menyarankan Departemen Pertanian (Deptan) untuk membuat sebuah program penggalakkan penggunaan kompos jerami. Program ini meliputi semua aspek antara lain: perangkat kebijakan, diseminasi, transfer teknologi, penyediaan sarana, dan pendampingan petani untuk membuat kompos jerami.

(Makalah disampaikan pada diskusi dengan Sekretaris Menteri Pertanian, Dr. Abdul Munif, di Fakultas Pertanian UGM, Yogyakarta, Kamis, 7 Mei 2009)
wah ini sebagai tambahan u/ PKM GT ku tgl 31 Maret 2010 tentang jerami padi pakai biofertilizer EM4

MEMBUAT BIOFERTILIZER

Membuat biofertilizer yang berkualitas tidaklah mudah dan murah. Penelitian intensif biofertilizer memerlukan biaya, waktu, dan tenaga tidak sedikit. Langkah-langkah yang saya sampaikan di bawah ini bukan merupakan langkah baku. Langkah-langkah ini bisa saja berbeda atau bisa saja dimodifikasi untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Mungkin juga setiap peneliti memiliki metode-nya masing-masing.Langkah-langkah utama membuat biofertilizer adalah sebagai berikut:

1. Menentukan Mikroba Bahan Aktif
2. Mengisolasi Mikroba Target
3. Menyeleksi Mikroba Target
4. Menentukan Metode dan Bahan Pembawa (carrier)
5. Menentukan Metode Perbanyakan Secara Masal
6. Membuat Prototipe
7. Menguji Prototipe
8. Pengujian Multi Komoditas, Multi Lokasi

Menentukan Mikroba Bahan Aktif

Pertama adalah menentukan mikroba-mikroba apa yang akan digunakan sebagai bahan aktif biofertilizer. Pilihan yang biasa digunakan adalah mikroba penambat N, mikroba pelarut P, mikoriza, atau PGPR. Anda boleh saja berambisi untuk menggunakan semua kelompok mikroba. Tetapi untuk itu Anda juga perlu menyiapakn biaya-nya juga. Sejauh ini sangat jarang ada orang yang ahli di semua kelompok mikroba. Umumnya mereka fokus pada satu atau dua kelompok mikroba saja. Artinya, kalau Anda ingin mendapatkan semua kelompok mikroba, Anda juga harus mengumpulkan orang-orang yang ahli di bidangnya masing-masing. Cara yang lebih baik adalah bekerja dalam sebuah tim yang beranggotakan beberapa orang dengan keahliannya masing-masing. Pada tahap ini ditentukan juga tanaman targetnya, bisa untuk tanaman tertentu atau untuk beberapa tanaman. Pilih tanaman yang paling memiliki nilai strategis dan ekonomis. Jangan terlalu berambisi untuk membuat biofertilizer untuk semua jenis tanaman. Misalnya untuk tanaman kelapa sawit. Beberapa tahun lagi Indonesia menjadi produsen kelapa sawit no 1 di dunia. Adalah pilihan yang cukup beralasan jika anda ingin membuat biofertilizer khusus untuk kelapa sawit. Jika kita sudah menemukan satu biofertilizer untuk satu jenis tanaman, Anda bisa mencoba-coba untuk tanaman lainnya.

glomus

Gambar mikroskopik VAM /Mikoriza
Mengisolasi Mikroba Target

Langkah berikutnya adalah melakukan isolasi mikroba-mikroba target tersebut. Mikroba-mikroba umumnya diisolasi dari Rhizosphere atau daerah di sekitar perakaran. Untuk mikroba-mikroba yang bersimbiosis diisolasi dari akarnya langsung, seperti Rhizobium atau mikoriza. Atau mikroba yang hidup dipermukaan akar tanaman. Tanah-tanah sampel dikumpulkan dari berbagai tempat yang memiliki kondisi tanah, iklim, dan komoditas yang berbeda-beda. Tanah-tanah yang memiliki kondisi ekstrim bisa juga dipilih. Tidak jarang ditemukan mikroba yang efisien untuk sawit ditemukan dari tanah-tanah marjinal yang tidak ada tanaman kelapa sawitnya.

Setiap jenis mikroba memiliki metode isolasi sendiri-sendiri. Mentode ini sudah berkembang selama bertahun-tahun oleh para ahli. Misalnya untuk mikroba pelarut fosfat, medium yang sering digunakan adalah medium Pikovskaya. Tahap isolasi ini tujuannya adalah mendapatkan mikroba target sebanyak-banyaknya, baik dari jenis fungi, bakteri, atau aktinomicetes. Kegiatan ini bisa makan waktu lama sekali. Sering diulang-ulang dan untung-untungan hingga benar-benar mendapatkan mikroba yang diinginkan. Tahap ini juga banyak menghabiskan bahan. Tahap isolasi ini termasuk juga tahap pemurnian isolat yang diperoleh.

bakteri pelarut fosfat

Mikroba palarut fosfat akan membentuk zona jernih pada medium Pikovskaya

Mikroba yang telah berhasil diisolasi kemudian diperbanyak, disimpan dan dipelihara. Jangan sampai isolat yang Anda peroleh mati, karena akan membuat semua biaya, tenaga, dan pikiran yang telah dikeluarkan jadi sia-sia. Penyimpanan yang agak sulit umumnya untuk mikroba-mikroba yang bersimbiosis dengan tanaman, apalagi obligat lebih repot lagi.
Menyeleksi Mikroba Target

Menyeleksi mikroba merupakan langkah yang sangat penting. Tujuannya adalah mendapatkan mikroba yang benar-benar unggul. Mikroba unggul adalah kunci dari kualitas biofertilizer yang ingin Anda buat. Banyak orang yang memproduksi biofertilizer, tetapi umumnya biasa-biasa saja. Kalau Anda memiliki mikroba yang jauh lebih baik dari mikroba yang mereka miliki, maka ini adalah modal Anda untuk mengalahkan mereka di pasaran. Seleksi juga sama sulitnya dengan mengisolasi mikroba. Waktu, tenaga, pikiran dan biaya yang dikeluarkan juga besar. Tapi jika berhasil, aku rasa akan setimpal dengan semua yang telah dikeluarkan.

Metode seleksi mikroba bermacam-macam, sama seperti metode isolasinya. Seleksi bisa dilakukan dalam beberapa tahap. Misalnya: 1) tahap laboratorium, 2) tahap rumah kaca, dan 3) uji coba skala lapang. Teknik seleksi biasanya diawali dengan seleksi kasar tujuannya untuk mendapatkan kandidat-kandidat mikroba unggul. Seleksi bisa dilakukan secara sederhana di dalam cawan petri, kemudian dilanjutkan dengan menggunakan erlenmeyer. Misalnya untuk mikroba penambat N, parameter yang digunakan adalah kemampuan untuk memfiksasi nitrogen. Sebagai langkah awal sebagai tolok ukur bisa menggunakan hasil yang pernah dilaporkan oleh orang lain. Pilih semua mikroba yang berada di atas batas itu. Kalau Anda tidak mendapatkkanya ulangi langkah sebelumnya, isolasi. Langkah ini bisa dilakukan berulang-ulang hingga mendapatkan mikroba yang benar-benar unggul.

Setelah seleksi di laboratorium dalam skala kecil selanjutnya adalah seleksi di rumah kaca. Kalau dalam seleksi sebelumnya yang diuji kemampuannya untuk memfiksasi nitrogen, melarutkan P, atau menghasilkan hormon, misalnya; maka langkah berikutnya adalah apakah benar mikroba itu bisa memberikan manfaat untuk tanaman. Seleksi masih dilakukan di rumah kaca yang kondisinya terkontrol. Di tahap ini tidak jarang mikroba yang unggul di cawan petri, tiba-tiba loyo di rumah kaca. Ibaratnya dia hanya ‘jago kandang’, ketika dilepas di ‘alam bebas’ mereka loyo. Tapi umumnya mikroba yang bagus di laboratorium, bagus juga di rumah kaca. Di sini juga dipilih beberapa mikroba. Jangan hanya pilih satu, karena belum tentu ini yang terbaik jika dilepas di ‘alam liar’.

Jika Anda ingin mengabungkan beberapa mikroba, baik untuk mikroba yang memiliki kemampuan sama (misal, sama-sama penambat N) maupun berbeda (penambat N + pelarut P), maka perlu dilakukan ujicoba kompatibilitas terelebih dahulu. Dua atau lebih mikroba diuji coba untuk menjawab pertanyaan apakah jika mikroba-mikroba tersebut akan memberikan pengaruh yang signifikan daripada jika mikroba-mikroba tersebut digunakan sendiri-sendiri. Pengujian bisa dilakukan di laboratorium maupun di rumah kaca.

Untuk lebih mudahnya saya berikan ilustrasi sebagai berikut, misalnya kita memiliki mikroba A dan B. Mikroba A secara signifikan dapat meningkatkan produksi hingga 20% dibanding kontrol. Demikian pula mikroba B secara signifikan dapat meningkatkan produksi hingga 25% dibanding kontrol. Belum tentu jika mikroba ini digabungkan maka hasilnya akan 20% + 25%. Bisa jadi akan tetap saja sama atau bahkan akan negatif hasilnya.

Ujicoba di rumah kaca juga sering dilakukan dalam bentuk prototipe mikroba yang telah disimpan dalam bawan pembawa Penjelasn tentang bahan pembawa saya uraikankan dibagian bawah. Seleksi berikutnya adalah seleksi di lapang. Seleksi di rumah kaca akan saya jelaskan nanti di bagian yang lain.

Proses seleksi ini harus dilakukan dengan sungguh-sungguh mengikuti kaidah-kaidah ilmiah dan menggunakan prosedur statistik yang benar. Kita harus benar-benar yakin, bahwa mikroba yang kita pilih adalah mikroba yang benar-benar unggul. Jika perlu dilakukan beberapa kali ujicoba untuk lebih menyakinkan. Kesalahan dalam seleksi akan membuat pekerjaan kita jadi sia-sia. Apalagi jika kita sudah melangkah cukup jauh.
Menentukan Metode dan Bahan Pembawa (carrier)

Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana mikroba ini akan ‘dikemas’. Pilihan yang umum adalah dikemas dalam bentuk padat, serbuk, granul, pelet, tablet, atau cair. Saya belum pernah menemukan produk biofertilizer dalam bentuk gel. Banyak pertimbangan untuk menentukan dalam bentuk apa biofertilizer akan dikemas. Salah satunya adalah karakteristik dari mikroba tersebut. Sebagai contoh: ektomikoriza umumnya dibuat dalam bentuk padat, pelet, atau tablet; endomikoriza umumnya padat; biofertilizer berbahan aktif bakteri dan fungi bisa padat atau cair.

Metode pengemasan ini berkaitan erat dengan bahan pembawa apa yang akan digunakan. Saya tidak banyak memiliki pengalaman untuk biofertilzer dalam bentuk cair. Saya akan lebih banyak memberikan contoh untuk biofertilizer dalam bentuk padat. Formula bahan pembawa umumnya merupakan ‘rahasia perusahaan’. Kalau anda coba mencarinya di jurnal-jurnal ilmiah akan sangat jarang ditemukan. Pertanyaan kuncinya adalah membuat formula bahan pembawa yang bisa melindungi mikroba dalam waktu lama (>12 bulan), tetap memiliki viabilitas dan efektivitas tinggi. Ini bukan perkerjaan yang mudah.

Karena informasi dari sumber-sumber resmi sulit ditemukan, saya memiliki beberapa tip untuk Anda jika akan membuat formula bahan pembawa. Cara paling gampang adalah dengan mempelajari dari produk biofertilizer yang sudah ada di pasaran. Saya tidak menyarankan Anda untuk menjiplak mentah-mentah, tetapi belajar dari produk yang ada. Coba amati dan perkirakan kira-kira terbuat dari apa bahan pembawa itu. Memang biasanya ada semacam ‘resep rahasia’ yang sulit dideteksi, tapi ini merupakan awal yang sangat bagus untuk mulai. Umumnya bahan pembawa yang sering digunakan adalah bahan-bahan organik, mineral, atau liat. Bahan organik bisa tepung-tepungan: terigu, tapioka, maizena, sagu, atau tepung kompos, gambut, dll. Bahan mineral biasanya zeolit (biasa digunakan untuk mikoriza), gypsum, bentonit, kapur dan lainnya. Ada juga yang mengguanakan tanah liat tertentu, seperti untuk endomikoriza. Bahan-bahan ini bisa tunggal atau bisa juga merupakan campuran dari beberapa bahan. Ada juga yang memberikan tambahan nutrisi pada bahan pembawa tersebut.

Beberapa pertimbangan lain untuk memilih bahan pembawa adalah kemampuan dalam mempertahankan viabilitas dan efektivitas mikroba. Dan yang tak kalah penting adalah pertimbangan ekonomi. Mungkin saja bahan pembawanya sangat bagus, tetapi kalau harganya mahal jadi tidak bisa dijual. Setiap bahan juga memiliki keunggulan dan kelemahannya masing-masing. Misalnya bahan organik cukup bagus, tetapi bahan ini juga disukai oleh banyak organisme. Rasanya cukup sulit untuk mempertahankan kondisinya optimum dan terhindar dari kontaminasi.

Untuk menguji viabilitas biasanya diukur jumlah populasi mikroba dalam rentang waktu penyimpanan. Bisa setiap bulan, setiap tiga bulan hingga satu tahun lamanya. Waktu penyimpanan satu tahun sudah cukup bagus. Kemudian pengujian evektivias mikroba tersebut terhadap tanaman target.

Langkah membuat formulasi bahan pembawa ini bisa dilakukan sambil melakukan seleksi mikroba. Terutama jika sudah diketahui jenis mikrobanya. Jadi dilakukan secara pararel. Kalau Anda sudah sudah melakukannya akan terasa ‘asik’ dan menyenangkan. Tapi ada juga yang merasa bosan, karena waktu yang dibutuhkan sangat lama.
Menentukan Metode Perbanyakan Secara Masal

Setelah kita mendapatkan mikroba unggul dan bawah pembawa yang sesuai, langkah penting lainnya adalah mendapatkan metode berbanyakan mikroba secara massal. Pada tahap-tahap sebelumnya perbanyakan mikroba dilakukan dengan menggunakan bahan-bahan kimia sesaui dengan standard baku mikrobiologi. Bahan-bahan kimia ini harganya cukup mahal dan sangat tidak ekonomis jika digunakan untuk produksi massal. Oleh karena itu perlu dilakukan pula riset untuk memproduksi mikroba tersebut dalam skala besar.

Metode umum untuk memproduksi mikroba antara lain adalah fermentasi cair dan fermentasi padat. Bakteri dan aktinomycetes umumnya diproduksi dalam medium cair, sedangkan kapang dan jamur diproduksi dalam medium padat. Mikroba yang bersimbiosis dengan tanaman, seperti mikoriza, diproduksi bersama dengan tanaman inangnya. Pemilihan bahan media untuk memproduksi mikroba ini tergantung pada metode produksinya. Cobalah untuk menganti media bahan kimia dengan media dari bahan-bahan yang murah dan mudah didapat. Pekerjaan ini merupakan ’seni’ tersendiri. Diperlukan kejelian dan ketekunan untuk mendapatkannya.

Selain media, kondisi kultur mikroba juga perlu diperhatikan. Misalkan apakah mikroba tersebut memerlukan aerasi atau bahkan perlu kondisi yang anaerob. Berapa suhu yang paling optimal untuk berkembang biak? Berapa waktu yang tepat untuk panen? Bagaimana cara pemanenannya? Dan pertanyaan-pertanyaan lain.

Salah satu pertimbangan untuk menentukan metode perbanyakan adalah pertimbangan ekonomi. Berapa biaya yang diperlukan untuk memproduksi 1 kg produk biofertilizer. Secara umum, jika Anda menggunakan banyak mikroba akan meningkat pula biaya produksinya.
Membuat Prototipe

Kalau sudah ketemu kandidat-kandidat mikroba bahan aktif dan bahan pembawanya, langkah berikutnya adalah membuat prototipe. Prototipe bisa terdiri dari beberapa contoh. Contoh-contoh ini mungkin sudah diseleksi dari beberapa percobaan dan dianggap sebagai hasil terbaik, misal: lima prototipe terbaik. Contoh biofertilizer dalam bentuk: cair, granul, serbuk, dan pelet. Atau bisa saja satu bentuk tetapi dengan beberapa formula, misal: cair A, cair B, cair C, dan seterusnya. Prototipe ini yang selanjutnya harus diuji dan dipilih mana prototipe yang akan menjadi produk akhir.
Menguji Prototipe

Pengujian prototipe pertama bisa dilakukan di rumah kaca dengan tanaman-tanaman target atau tanaman model. Jangan lupa untuk menggunakan prosedur statistik dengan benar dan teliti. Jika Anda ragu-ragu, ulangi lagi percobaan rumah kaca ini. Ingat Anda harus benar-benar yakin. Kadang-kadang peneliti bisa bias dalam analisa. Gunakan prosedur statistik sebagai alat untuk mengambil keputusan. Tapi jangan terlalu percaya statistik. Gunakan juga intuisi atau feeling atau firasat. Sekali lagi, hati-hati dengan keinginan yang bisa membiaskan hasil analisa Anda. Bedakan antara opini dan data. Fokus pada data-nya.

Ketika melakukan pengujian, amati pula tanamannya. Kalau anda dibantu oleh teknisi atau pembantu teknisi, jangan hanya lihat datanya saja. Sempatkan untuk melihat tanamannya. Bandingkan hasil analisa statistik dengan pengamatan Anda. Apakah ada yang janggal, ada yang berbeda, atau ada yang istimewa.

Dalam tahap ini, bisa saja sebuah prototipe diperbaiki. Sebagai contoh: pupuk organik bentuk serbuk memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan bentuk granul. Tetapi masa simpannya lebih pendek daripada bentuk granul. Anda bisa melakukan modifikasi pada bentuk curah atau granulnya. Coba teliti lagi lebih seksama pada prototipe tersebut. Apakah granulnya terlalu keras, sehingga sulit hancur ketika berada di tanah dan akhirnya membuat efektifitasnya rendah. Langkah perbaikannya adalah membuat granul yang lebih mudah hancur.
Pengujian Multi Komoditas, Multi Lokasi

Apabila prototipe lolos dari pengujian di rumah kaca, langkah berikutnya adalah pengujian lapang. Pengujian bisa dilakukan di kebun percobaan, tetapi skalanya kecil. Kalau percobaan ini mendapatkan hasil yang konsisten, coba lagi di tempat yang lebih luas atau diulang di tempat yang berbeda-beda. Bisa juga Anda mencobanya dengan varietas yang berbeda, lokasi yang berbeda, cara budidaya yang berbeda, bahkan dengan komoditas yang berbeda. Ingat, gunakan prosedur statistik dengan benar dan teliti, tetapi jangan diperbudak oleh statistik.

Pada tahap ini sebenarnya bisa juga dilakukan pengujian pasar. Apakah calon konsumen mau menerima produk ini? Apakah cara atau metode penggunaanya bisa diterima oleh konsumen? Bagaimana dengan harga? Bagaimana dengan warna? Bagaimana dengan kemasannya? Bagaimana dengan ukuran kemasan? Bagaimana dengan nama? Dan lain-lain.

Bisa saja produk ini juga dicoba untuk mulai dijual. Dana yang diperoleh bisa digunakan untuk memperbaiki prototipe tersebut.

Kalau dari semua langkah ini berhasil, selamat Anda telah berhasil membuat BIOFERTILIZER.
Pengembangan Produk

Bukan berarti jika biofertilizer telah ditemukan Anda terus santai saja menikmati royalti. Tidak ada produk yang sempurna sekali jadi. Dalam perjalanan produk tersebut diperlukan perbaikan dan pengembangan. Anda tidak bisa diam saja. Teruslah berfikir dan mencari untuk membuat biofertilizer Anda lebih baik lagi.

Perbaikan bisa dilakukan dengan mempertimbangkan umpan balik dari pengguna. Dengarkan keluhan-keluhan pengguna. Dengarkan saran dan kritik dari pengguna. Perbaiki dan kembalikan lagi ke pengguna. Apakah ada pengguna bisa lebih menerima? Bagaimana umpan balik mereka?
http://isroi.wordpress.com
http://lkimunand.blogspot.com

pupuk kimia, organik, dan pupuk hayati

Pupuk Kimia

Seperti namanya pupuk kimia adalah pupuk yang dibuat secara kimia atau juga sering disebut dengan pupuk buatan. Pupuk kimia bisa dibedakan menjadi pupuk kimia tunggal dan pupuk kimia majemuk. Pupuk kimia tunggal hanya memiliki satu macam hara, sedangkan pupuk kimia majemuk memiliki kandungan hara lengkap. Pupuk kimia yang sering digunakan antara lain Urea dan ZA untuk hara N; pupuk TSP, DSP, dan SP-26 untuk hara P, Kcl atau MOP untuk hara K. Sedangkan pupuk majemuk biasanya dibuat dengan mencampurkan pupuk-pupuk tunggal. Komposisi haranya bermacam-macam, tergantung produsen dan komoditasnya.
Pupuk Organik

Kompos
Kompos, pupuk organik yang murah dan mudah dibuat. Baca: Membuat Kompos Jerami

animasi tanamanPupuk organik seperti namanya pupuk yang dibuat dari bahan-bahan organik atau alami. Bahan-bahan yang termasuk pupuk organik antara lain adalah pupuk kandang, kompos, kascing, gambut, rumput laut dan guano. Berdasarkan bentuknya pupuk organik dapat dikelompokkan menjadi pupuk organik padat dan pupuk organik cair. Beberapa orang juga mengkelompokkan pupuk-pupuk yang ditambang seperti dolomit, fosfat alam, kiserit, dan juga abu (yang kaya K) ke dalam golongan pupuk organik. Beberapa pupuk organik yang diolah dipabrik misalnya adalah tepung darah, tepung tulang, dan tepung ikan. Pupuk organik cair antara lain adalah compost tea, ekstrak tumbuh-tumbuhan, cairan fermentasi limbah cair peternakan, fermentasi tumbuhan-tumbuhan, dan lain-lain.

Pupuk organik memiliki kandungan hara yang lengkap. Bahkan di dalam pupuk organik juga terdapat senyawa-senyawa organik lain yang bermanfaat bagi tanaman, seperti asam humik, asam fulvat, dan senyawa-senyawa organik lain. Namun, kandungan hara tersebut rendah. Berdasarkan pengalaman saya, tidak ada pupuk organik yang memiliki kandungan hara tinggi atau menyamai pupuk kimia.

Buku Pupuk Organik GranulOrang sering kali menghitung kebutuhan pupuk organik berdasarkan kandungan haranya saja. Kandungan hara pupuk organik disetarakan dengan kandungan hara dari pupuk kimia yang biasa digunakan. Akibatnya kebutuhan pupuk organik jadi berlipat-lipat dibandingkan dengan dosis pupuk kimia. Sebagai contoh kompos dengan kandungan sebagai berikut: 2.79 % N, 0.52 % P2O5, 2.29 % K2O. Maka dalam 1000 kg (1 ton) kompos akan setara dengan 62 kg Urea, 14.44 kg SP 36, dan 38.17 kg MOP. Cara menghitungnya sebagai berikut:

Hara N =
(%N Kompos x 1000 kg)/%N Urea = (2.79% x 1000 kg)/45% = 62 kg

Hara P=
(%P2O5 kompos x 1000 kg)/%P2O5 SP-36 = (0.52% x 1000 kg)/36% = 14.44 kg

Hara K=
(%K2O kompos x 1000 kg)/%K2O MPO = (2.29% x 1000 kg)/60% = 38.17 kg

Misalkan padi biasanya diberi pupuk kimia dengan dosis 200 kg Urea,100 kg SP-36, dan 150kg MOP/KCl. Agar haranya sama maka kompos yang diperlukan kurang lebih sebanyak 7 ton. Dosis yang besar ini akan berimplikasi langsung terhadap biaya pemupukan. Jika dihitung biaya pemupukan dengan pupuk organik/kompos jauh lebih besar daripada biaya pemupukan dengan pupuk kimia. Belum lagi biaya untuk aplikasi kompos tersebut. Perbandingan biayanya sebagai berikut:

Kenyataan di lapangan membuktikan bahwa pupuk organik/kompos tidak bisa dihitung berdasarkan unsur haranya saja. Kalau Anda tidak percaya Anda bisa melakukan percobaan sederhana untuk membandingkan kedua pupuk ini. Ambil tanah, sebaiknya gunakan tanah-tanah marjinal. Masukkan ke dalam dua polybag yang ukuran dan isinya sama. Satu polybag diberi kompos dengan dosis 0.5 รข€“ 1 kg. Polybag yang lain diberi pupuk kima beberapa sendok. Ya… kira-kira kandungan haranya sebanding. Trus tanam sembarang tanaman, bisa biji cabe, tomat, cay sim, mentimum, atau tanaman-tanaman lainnya. Letakkan di tempat yang sama. Beri perlakuan penyiraman, penyiangan, dan perlakuan lainnya yang sama. Tunggu beberapa lama hingga tanaman tumbuh besar dan menghasilkan. Coba bandingkan, tanaman mana yang lebih bagus hasilnya?
Uji pupuk
Cara sederhana menguji pupuk kimia, pupuk organik, dan pupuk hayati. (A) kontrol, tanpa pemupukan sama sekali. Tanaman terlihat sangat merana. (B) Diberi pupuk kimia, tanaman tetap merana meskipun tumbuh lebih baik. (C) Diberi kompos/pupuk organik. Hasilnya jauh lebih baik. (D) Diberi pupuk organik/kompos dan biofertilizer. Tumbuhnya paling baik.

Saya hampir yakin 90% kalau tanaman yang diberi kompos akan tumbuh lebih baik daripada tanaman yang diberi pupuk kimia, meskipun kandungan haranya sebanding. Pertanyaannya adalah MENGAPA BISA DEMIKIAN????

sampuldepantumbnailOrang sering lupa bahwa selain kandungan hara, pupuk organik juga mengandung senyawa-senyawa organik lain. Meskipun kandungan haranya rendah tetapi kandungan senyawa-senyawa organik di dalam kompos ini memiliki peranan yang lebih penting dari pada peranan hara saja. Misalnya, asam humik dan asam fulvat. Kedua asam ini memiliki peranan seperti hormon yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Kompos diketahui dapat meningkatkan nilai KTK (kapasitas tukar kation) tanah. Artinya tanaman akan lebih mudah menyerap unsur hara. Tanah yang diberi kompos juga menjadi lebih gembur dan aerasi tanah menjadi lebih baik. Tanah yang diberi kompos lebih banyak menyimpan air dan tidak mudah kering. Jika diamati lebih jauh, aktivitas mikroba pada tanah yang diberi kompos akan lebih tinggi daripada tanah yang tidak diberi kompos. Mikroba-mikroba ini memiliki peranan dalam penyerapan unsur hara oleh tanaman. Singkat cerita, kompos dapat memperbaiki sifat kimia, sifat fisik, dan sifat biologi tanah.

Lalu bagaimana menghitung kebutuhan pupuk organik/kompos?

Sampai saat ini saya belum menemukan rumus, baik dari pengalaman saya sendiri atau dari literatur orang lain, untuk menghitung kebutuhan pupuk organik/kompos ini. Kandungan pupuk organik sangat beragam. Karakteristiknya pun bermacam-macam. Sama-sama pupuk kandang, pupuk kandang di P Jawa bisa saja sangat berbeda dengan pupuk kandang di P Sulawesi. Belum lagi hubungannya dengan jenis tanah, iklim, kondisi lingkungan, cara budidaya dan komoditas tanaman yang berbeda-beda. Umumnya dosis pupuk organik/kompos ditentukan secara empirik. Ini adalah hasil penelitian dan ujicoba. Mungkin juga pengalaman lapang petani selama bertahun-tahun.

Pupuk Organik
Contoh pupuk organik berbentuk granul yang ada dipasaran.

Dalam kondisi tertentu, pupuk organik/kompos dapat diberikan tanpa menambahkan pupuk kimia sama sekali. Cara ini dipraktekkan dalam budidaya pertanian organik. Yang lebih sering dilakukan adalah mengkombinasikan antara pupuk organik dengan pupuk kimia. Sebagian kebutuhan hara tanaman disubstitusi antara pupuk kimia dan pupuk organik. Caranya dengan menghitung berapa kombinasi yang paling ekonomis, baik dilihat dari sisi biaya maupun hasilnya. Patokan yang sering dipakai adalah 50% dosis pupuk kimia diganti dengan sejumlah pupuk organik. Dosisnya bisa 1 – 2 kg atau bahkan hingga 30 kg/pokok.

Untuk mendapatkan dosis yang paling tepat dilakukan dengan ujicoba di rumah kaca dan di lapang dalam skala yang cukup luas.
Baca juga: Kompos jerami: murah, mudah, dan cepat | Video Pengomposan Jerami
Pupuk Hayati


Contoh biofertilizer import dalam bentuk cair.
Link terkait: Penjelasan tambahan tentang mikroba untuk memperkaya kompos

animasi mikrobaNama keren pupuk hayati adalah biofertilizer. Ada yang juga menyebutnya pupuk bio. Apapun namanya pupuk hayati bisa diartikan sebagai pupuk yang hidup. Sebenarnya nama pupuk kurang cocok, karena pupuk hayati tidak mengandung hara. Pupuk hayati tidak mengandung N, P, dan K. Kandungan pupuk hayati adalah mikrooganisme yang memiliki peranan positif bagi tanaman. Kelompok mikroba yang sering digunakan adalah mikroba-mikroba yang menambat N dari udara, mikroba yang malarutkan hara (terutama P dan K), mikroba-mikroba yang merangsang pertumbuhan tanaman.

Kelompok mikroba penambat N sudah dikenal dan digunakan sejak lama. Mikroba penambat N ada yang bersimbiosis dengan tanaman dan ada juga yang bebas (tidak bersimbiosis). Contoh mikroba yang bersimbiosis dengan tanaman antara lain adalah Rhizobium sp Sedangkan contoh mikroba penambat N yang tidak bersimbiosis adalah Azosprillium sp dan Azotobacter sp.

rhizobium02
Koloni Rhizobium yang tumbuh dalam media cawan agar.

scan0001b
Rhizobium dilihat di bawah mikroskop dengan pembesaran 30.000x

bintilo1b
Bentuk bintil akar yang terinfeksi Rhizobium.

bintil02
Bintil yang aktif jika dipecah akan berwarna merah darah (kiri), sedangkan bintil yang tidak aktif berwarna pucat (kanan)

Mikroba pelarut P dilaporkan oleh orang Rusia bernama Pikovskaya pada tahun 1948 yaitu Bacillus megatherium var. phosphaticum, dan mulai digunakan sebagai inokulum pertanian sejak tahun 1950-an Beberapa mikroba yang diketahui dapat melarutkan P dari sumber-sumber yang sukar larut ditemukan baik dari kelompok kapang/fungi seperti Penicillium sp dan Aspergillus sp, atau dari kelompok bakteri seperti Bacillus sp dan Pseudomonas sp.

Bakteri Pelarut Fosfat
Bakteri Pelarut Fosfat

Jamur Pelarut fosfat
Jamur/cendawan Pelarut Fosfat

pupuk granul fosfatalam04
Mikroba pelarut fosfat dimanfaatkan untuk memperkaya fosfat alam. Fosfat alam granul di dalam foto di atas sudah diperkaya dengan mikroba pelarut fosfat.

Baca juga: Mikroba Pelarut Fosfat untuk Memenuhi Kebutuhan Pupuk Fosfat Mikroba lain yang juga sering digunakan adalah Mikoriza, yang terdiri dari dua kelompok utama yaitu: endomikoriza dan ektomikoriza. Mikoriza bersimbiosis dengan tanaman. Secara mudahnya endomikoriza berarti mikoriza yang ada di dalam dan ektomikoriza adalah mikoriza yang ada di luar. Endomikoriza atau VAM umumnya adalah fungi tingkat rendah sedangkan ektomikoriza adalah jamur tingkat tinggi. Mikroriza memiliki peranan yang cukup komplek. Dia tidak hanya berperan membantu penyerapan hara P, tetapi juga melindungi tanaman dari serangan penyakit dan memberikan nutrisi lain bagi tanaman.

Mikoriza
Mikoriza

Mikroba yang juga sering digunakan sebagai biofertilizer adalah mikroba perangsang pertumbuhan tanaman. Mikroba dari kelompok bakteri sering disebut dengan Plant Growt Promoting Rhizobacteria (PGPR), namun sekarang juga diketahui bahwa ada juga fungi yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Bakteri yang diketahui dapat merangsang pertumbuhan tanaman antara lain adalah Pseudomonas sp, Azosprillium sp, Sedangkan fungi yang sudah diketahui adalah Trichoderma sp.

Pseudomonas sp
Pseudomonas sp, salah satu bakteri PGPR yang menghasilkan hormon.

Mikroba-mikroba bahan aktif pupuk hayati dikemas dalam bahan pembawa, bisa dalam bentuk cair atau padat. Pupuk hayati juga ada yang hanya terdiri dari satu atau beberapa mikroba saja, tetapi ada juga yang mengklaim terdiri dari bermacam-macam mikroba. Pupuk hayati ini yang kemudian diaplikasikan ke tanaman.

Saat ini dipasaran banyak beredar pupuk hayati. Sebagian mengklaim memiliki kandungan mikroba yang banyak dan lengkap dengan kemampuan luar biasa. Secara pribadi saya tidak percaya dengan biofertilizer yang memiliki banyak mikroba dan efektif di semua tempat, semua komoditas, dan semua kondisi.

Salah satu kelembahan mikroba adalah sangat tergantung dengan banyak hal. Mikroba sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungannya, baik lingkungan biotik maupun abiotik. Jadi biofertilizer yang cocok di daerah sub tropis belum tentu efektif di daerah tropis. Demikian juga biofertilizer yang efektif di Indonesia bagian barat, belum tentu efektif juga di wilayah Indonesia bagian timur. Mikroba yang bersimbiosis dengan tanaman lebih spesifik lagi. Misalnya Rhizobium sp yang bersimbiosis dengan kedelai varietas tertentu belum tentu cocok untuk tanaman kacang-kacangan yang lain. Umumnya mikroba yang bersimbiosis berspektrum sempit.
Trend Saat Ini

Pupuk hayati, pupuk organik, dan pupuk kimia adalah jenis pupuk yang tegas perbedaanya. Namun saat ini ada kecenderungan untuk mengkombinasikan jenis-jenis pupuk tersebut. Misalnya ada produk pupuk yang menyebut dirinya pupuk NPK organik. Pupuk ini merupakan pupuk kimia yang dikombinasikan dengan pupuk organik. Ada juga yang menyebut sebagai pupuk bioorganik. Maksudnya adalah kombinasi antara pupuk organik dengan pupuk bio (hayati). Namun masih sedikit atau bahkan tidak ada yang mengkombinasikan pupuk NPK dengan pupuk hayati. Karena umumnya mikroba tidak tahan jika disatukan dengan pupuk kimia dalam konsentrasi tinggi.

Begitu banyak sekali produk-produk pupuk dipasaran. Terserah Anda akan memilih yang mana. Saya sarankan Anda memilik pupuk hayati atau pupuk organik jika memungkinkan. Karena kedua pupuk ini sejauh ini lebih ramah lingkungan.
http://isroi.wordpress.com/2008/02/26/pupuk-organik-pupuk-hayati-dan-pupuk-kimia/

Virus flu burung (H5N1) merupakan momok tersendiri bagi masyarakat

Virus flu burung (H5N1) merupakan momok tersendiri bagi masyarakat, sampai saat ini belum ditemukan cara efektif untuk menghentikan virus yang sudah mematikan banyak orang ini. Di Indonesia, upaya untuk menghentikan dilakukan dengan kerja keras, namun sampai kini virus itu tetap jadi ancaman nyata yang ditakuti banyak orang.

Untuk itu, upaya pengendalian dan pencegahan penyebaran virus itu merupakan langkah yang lebih baik dibanding mengobati. Pencegahannya tidak hanya sebatas penggunaan vaksinasi flu burung pada unggas, melainkan juga dengan menggunakan desinfektan yang efektif mematikan virus flu burung (H5N1) di lingkungan peternakan, pemukiman, rumah sakit dan tempat umum lain seperti sekolah.

"Pencegahan penyebaran virus flu burung masih lebih efektif diband ingkan dengan cara mengobati, karena virus ini mudah bermutasi," kata ahli patologi dari Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor (IP B) Agus Setiyono, Senin (12/5), dalam jumpa pers, di Hotel Ciputra, Jakarta. Salah satunya dengan mencuci peralatan dan menyemprot tempat yang berisiko terkontaminasi virus H5N1 dengan desinfektan, zat kimia yang membunuh dan menghambat multiplikasi mikroorganisme yaitu bakteri, protozoa, fungi dan virus.

Menurut Direktur Eksekutif Magna International Singapore, produsen sebuah produk desinfektan, Nelson Cheng , penggunaan desinfektan bisa membantu individu, rumah sakit dan peternak ayam untuk mengendalikan pandemi. Desinfektan jenis deterjen kationik diharapkan mampu memutus mata rantai penularan virus H5N1. Apalagi, kemasannya mudah dibawa bagi individu, cukup menyemprotkan, praktis dan efisien.

Agus menyatakan, setelah melalui beberapa uji laboratorium, desinfektan kategori deterjen kationik memang terbukti seratus persen efektif membunuh virus flu burung. Metode pengujian yang dilakukan adalah, pupukan virus H5N1 pada media telu r embrio tertunas (TET) yang diberikan desinfektan itu dengan konsentrasi seratus persen sebagai bahan obat yang diuji. Penyiapannya dilakukan dengan mengencerkan desinfektan itu yang perbandingannya 1 banding 1. Pengenceran dilakukan dengan H2O murni ditambahkan antibiotik.

Kemudian, dari setiap pengenceran ditambah dua mililiter pupukan virus H5N1. Setelah itu, campuran tersebut diinkubasikan selama 15 menit pada suhu 37 derajat celsius. Selanjutnya, campuran yang diinkubasi diambil sebanyak 0,2 mililiter untuk diinoklulasikan ke dalam TET yang berusia 11 hari melalui rute r uang alantois. Selanjutnya, semua pupukan itu dimasukkan ke dalam inkubator pada suhu 37 derajat celsius, dan dilakukan pengamatan tiap hari dengan cara meneropong telur-telur itu.

Pengamatan dihentikan jika embrio pada TET telah mati. Selanjutnya, telur yang embrionya telah mati ini diambil cairan alantoisnya untuk dilakukan pemeriksaan rapid test dengan menggunakan serum standar AI. Hasilnya, desinfektan itu mampu membunuh vi rus H5N1 dengan konsentrasi seratus persen.

Sabtu, 20 Februari 2010

Mau berangkat UAS dari Etos ke Kampus pg hari nih\\

Yg banyakan di Asam Pulau Pariaman yg sendiri adalah Si Fajri Jlk di Bukitinggi


Beasiswa Brunei 2010


January 19, 2010


Negara Brunei Darussalam menerima setiap tahun mahasiswa dari indonesia.
Keterangan beasisiwa;
Penerima beasiswa akan diberikan :
1. Tunjangan sara Hidup B$ 500,00(1Brunei Dollar = Rp5100) setiap bulan
2. Uang Buku B$ 300 ( persemester)
3. Uang Kaca Mata $150 (satu ka...li)
4. Gratis biaya kesehatan, semua ditanggung oleh kerajaan Brunei Darussalam.
6. Disediakan asrama dan tempat tinggal secara cuma-cuma.
7. Disediakan Makan 3x sehari (gratis)
8. Tiket penerbangan setiap 2 tahun sekali
Jurusan yang Ada;
- Msc Petroleum Geoscience, Phd Petroleum
- MBA
- MPP (master Public policy)
- Med ( By reasech or dessertation)
- BA. Education(s1)
- BA. Pendidikan(s1)
- Sarjana muda Syariah (s1)
- MA. Syariah (by reaseach)
- Sarjana muda Ushuluddin (s1)
- sarjana Muda Bhs Arab
- BA. Economics
- BA. Public Policy
- dan lain lain
untuk informasi boleh di :
Kedutaan Brunei Darussalam di Indonesia;
Wisma GKBI jl. rasuna said. lt 19
Jakarta Pusat

keindahan\\FB

Keindahan dan kesejukan mewarnai Hamba-Hamba Allah yang mabuk dalam genggaman RahmatNya, menyusun bait-bait keindahan yang tak ada habisnya bertumbuhan di muka bumi. Begitupun dengan Hamba Allah yang sedang jatuh cinta di pelaminan ilmu-ilmu Allah yang tak terbatas dan sungguh hebat kewibawaannya, sampai-sampai tertegun dengan keluasan ilmuNya

Rabu, 16 Desember 2009

Kembang Gula Kelapa “KMM” Home Industri.

USULAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA KEWIRAUSAHAAN

A. JUDUL PROGRAM
Kembang Gula Kelapa “KMM” Home Industri.

B. LATAR BELAKANG
Melihat perkembangan ekonomi saat ini, banyak lulusan Perguruan tinggi yang menjadi pengangguran, hal itu disebabkan sedikitnya lapangan pekerjaan yang tersedia dibandingkan dengan pencari kerja. Hal itu juga dipicu oleh paradigma berfikir bahwa para lulusan Perguruan Tinggi saat ini yang menganggap orang gajian lebih baik, lebih menjamin kelangsungan hidup daripada membuka usaha sendiri yang memiliki resiko tingkat ketidakpastian yang cukup tinggi.
Salah satu alternative yang dapat mengatasi masalah pengangguran yang semakin menjamur saat ini adalah dengan membuka usaha sendiri atau berwira usaha. Dengan berwirausaha kita dapat membuka lapangan pekerjaan sendiri, dimana dalam membuka usaha ini membutuhkan modal, berani mengambil resiko, optimis terhadap usaha yang dijalankan dan sungguh-sungguh menjalankan usaha. Tanpa kita sadari kita telah membuka peluang untuk pengangguran mendapatkan pekerjaan.
Dari sinilah berawal terjadinya perubahan paradigma yang berkembang di masyarakat. Maka dari itu, para lulusan sibuk mencari pusat-pusat pelatihan kewirausahaan yang dapat membuka cakrawala berfikir, sehingga dapat melahirkan ide-ide cemerlang yang diwujudkan dalam bentuk usaha. Dari kondisi inilah kami berinisiatif untuk membuka usaha pengolahaan buah kelapa menjadi kembang gula kelapa KMM (Karya Mahasiswa Mandiri) sebagai industri rumah tangga. Kembang gula kelapa ini memiliki ciri khas yang unik untuk cemilan dan sangat disukai oleh anak-anak bahkan orang dewasa.
Hasil pengamatan kami di pasaran kota Padang khususnya dan Sumbar pada umumnya , belum ada produsen yang bergerak untuk memproduksi kembang gula kelapa ini. Selama ini kembang gula kelapa hanya dibuat untuk makanan atau oleh-oleh ketika hari besar agama tiba. Sedangkan banyak masyarakat yang menyukai kembang gula ini, sehingga kami tertarik untuk memulai usaha produksi kembang gula kelapa.

C. PERUMUSAN MASALAH
a. Tingginya produksi kelapa didaerah Sumbar, perlu modifikasi produk kelapa
menjadi makanan ringan kembang gula kelapa
b. Kurangnya pengetahuan masyarakat dalam pengolahan kelapa menjadi cemilan cepat saji
c. Belum adanya produsen yang bergerak dibidang usaha kembang gula di kota Padang.

D. TUJUAN PROGRAM
1. Pengembangan jiwa kewirausahaan dalam diri mahasiswa sejak dini
2. Menumbuhkan kreatifitas dan keterampilan mahasiswa dalam pembuatan kembang gula kelapa.
3. Melatih jiwa kepemimpinan dan kemampuan manajerial dalam suatu usaha

E. LUARAN YANG DIHARAPKAN
Dari kegiatan PKMK ini, luaran yang diharapkan adalah agar kreatifitas dan keterampilan mahasiswa dapat berkembang menjadi wirausahawan terlatih sehingga siap terjun pada dunia usaha, sekaligus dapat mengembangkan usaha kembang gula kelapa yang sangat disukai.

F. KEGUNAAN PROGRAM
1. Meningkatkan jiwa kewirausahaan
2. Menumbuhkan kreatifitas dan keterampilan mahasiswa
3. Menciptakan pengalaman dalam berwirausaha serta dapat menciptakan lapangan pekerjaan skala kecil.




G. GAMBARAN UMUM RENCANA USAHA
Kembang gula kelapa ini memiliki ciri khas yang unik untuk cemilan, dan sangat disukai oleh anak-anak bahkan orang dewasa. Kembang kelapa juga memiliki daya tahan yang cukup lama ± 1 bulan, selain itu proses pengolahannya juga cukup mudah dan mengandung protein nabati yang cukup tinggi.
Ciri-ciri khas dari kembang kelapa yaitu; bentuknya yang mirip dengan bunga mawar diolesi dengan coklat dan penuh warna-warni dengan mutiara. Berat kambang gula yaitu ± 20 gr. Design dari kembang gula ini yaitu dibungkus dengan plastik bergambar agar kemasannya lebih unik dan dapat menarik konsumen.
Dari pengamatan kami di pasaran kota Padang, belum ada produsen yang bergerak untuk memproduksi kembang gula kelapa ini. Selama ini kembang gula kelapa hanya dibuat untuk makanan atau oleh-oleh ketika hari besar agama tiba. Sedangkan banyak masyarakat yang menyukai kembang gula ini, sehingga kami tertarik untuk memulai usaha produksi kembang gula kelapa.

H. METODE PELAKSANAAN
1. Alat dan Bahan
a. Alat
 Pemarut
 Ember
 Sendok goreng
 Sendok cetak
 Kuali
 Kompor minyak
 Oven
 Kertas Kap
b. Bahan
 Kelapa muda
 Coklat
 Gula
 Pewarna alami
 Mutiara kue

2. Metoda Kerja
A. Metode dalam pembuatan kue kembang gula
Ada beberapa fase dalam pembuatan kue kembang gula

1. Fase pertama
a. Pembuatan Pewarna Alami
Pewarna alami ini di buat dengan menggunakan daun pandan. Adapun cara pembuatannya yaitu daun pandan diblender dan diekstrasi sehingga diambil sarinya dan di tambahkan air secukupnya, kemudian dilakukan penyaringan.
b. Pembuatan kelapa parutan
Kelapa agak tua diparut dan dikeluarkan dari tempurung sesuai dengan ukuran pemarutnya. Kemudian dimasukkan kedalam ember.
c. Pencampuran bahan
Campurkan kelapa, gula, dan pewarna alami sampai merata atau homogen.
d. Penyangraian
Campuran yang telah homogen tersebut disangrai di atas kompor ± 15 menit sampai kering dan bisa di cetak.

2. Fase Kedua
a. Pencetakan
Setelah melakukan sangrai,kue kembang gula dicetak ke dalam kertas kap kue.
b. Pengeringan
Pengeringan dilakukan didalam oven dan diangkat setelah kue terlihat kering.
c. Modifikasi bentuk
Modifikasi bentuk ini dilakukan agar kue kembang gula ini kelihatan lebih menarik. Caranya yaitu : kue yang telah keluar dari oven dilelehkan dengan coklat bagian atas, serta di taburkan dengan mutiara kue.



Adapun Diagram pembuatannya adalah sebagai berikut :
1. Fase pertama












2. Fase kedua










b. Pengemasan
Kemasan produk ini diberi label “Karya Mahasiswa Mandiri (KMM)” dengan design yang menarik.
c. Penyediaan tempat produksi
Kembang gula di produksi dengan menggunakan jasa rumah kos yang beralamat di Jl. Irigasi No. 51, RT 01/RW 01 Pasar Baru, Kec. Pauh Padang. Lokasi ini merupakan tempat kos penulis yang dekat dengan lokasi pemasaran yang strategis dengan lokasi kampus, Pasar Raya, dan tempat wisata .
Pembagian tugas dari masing-masing anggota yaitu sebagai penanggung jawab produksi, penanggung jawab pemasaran dan penanggung jawab keuangan.

d. Pemasaran
Pemasaran kue kembang kelapa ditujukan untuk anak-anak hingga orang dewasa karena kembang gula ini cukup digemari sebagai cemilan ringan. lokasi pemasaran ditempatkan pada kafe-kafe di lingkungan pada setiap fakultas Universitas Andalas, di sekitar tempat produksi, koridor kampus, di rumah-rumah kos, di mini market, dan warung-warung sekitar pasar baru. Pemilihan lokasi ini karena berdekatan dengan tempat tinggal para mahasiswa. kesukaan mahasiswa dalam mengemil di saat-saat senggang merupakan sasaran utama dalam penjualan produk.

I. JADWAL KEGIATAN
No Kegiatan 1 2 3

1 Persiapan kegiatan
Persiapan alat
Pembelian bahan
2 pelaksanaan
pembuatan
3 pemasaran
promosi
4 Pembuatan laporan





J. NAMA DAN BIODATA KETUA SERTA ANGGOTA PELAKSANA
1. Ketua Pelaksana
a. Nama : Eka Oktaviana
b. NIM/tahun : 06162007/2006
c. Tempat/tgl lahir : Kp. Ladang, 4 Oktober 1988
d. Alamat /telp : Jl. Tunggang, Kel. Pasar Ambacang No. 36 ,
RW 2/RT 5 Telp/HP: 081363530302
e. Jurusan/Prodi : Nutrisi dan Makanan Ternak
f. Karya Ilmiah :
- Bioarang sampah TPA Sebagai Sumber Energi Alternatif (2009)
- Kembang Gula Kelapa “KMM” Home Industri (2009)

2. Anggota Pelaksana
a. Nama : Evi Yulianti
b. NIM/Tahun : 06162004/2006
c. Tempat/tgl lahir : Marike, 14 September 1987
d. Alamat /telp : Jl. Irigasi No. 51, RT 01/RW 01, Pasar Baru.
e. Jurusan/Prodi : Nutrisi dan Makanan Ternak
f. Karya Ilmiah :
 Biogas Jerami Padi sebagai Sumber Energi Alternatif di Sumatera Barat (2009)
 Kembang Gula Kelapa “KMM” Home Industri (2009)

3. Anggota Pelaksana
a. Nama : Azhari Nuridinar
b. NIM/tahun : 05163023/2005
c. Tempat/tgl lahir : Pariaman, 28 Pebruari 1987
d. Alamat /telp : Jln. Batusangkar V no 850 Siteba, Padang 25146.
Telp/HP : (0751) 461204/ 085274019697
e. Jurusan /Prodi : Produksi Ternak/Teknologi Hasil Ternak

f. Karya Ilmiah :
- Bioarang Sebagai Sumber Energi Alternatif Pengganti Minyak Tanah Yang Murah Dan Ramah Lingkungan (2007).
- Teknologi Penyamakan Kulit (2007)
- Meraih Peluang Pasar Keripik Bayam di Kota Padang (2008).
- Dampak Aplikasi Komputer di Perguruan Tinggi. (2008)
- Pengenalan Budaya Minang Kabau melalui kreasi Sablon (2009).
- Aplikasi Biogas dari Isi Rumen Mengatasi Masalah Limbah di Rumah Potong Hewan (RPH) (2009).

K. NAMA DAN BIODATA PEMBIMBING
a. Nama : Dr. Ir. Ahadiyah Yuniza, MS
b. NIP/Gol. Pangkat : 131691905/IV a
c. Jabatan Struktural : S3/Lektor Kepala
d. Tempat/tgl lahir : Jakarta/23 Juni 1963
e. Bidang keahlian : Non Ruminansia
f. Alamat/ telp : Komp. Perumahan Unand Blok B III/02/10 Limau Manis Padang.Telp/HP : 0751-72924
g. Jurusan : Nutrisi dan Makanan Ternak
h. Karya Ilmiah :
- Pengaruh Jenis Kelamin dan Tingkat Substitusi Dedak Halus dalam Ransum Komersial terhadap Perkembangan Alat Pencernaan Ayam Kampung (Tahun 1985).
- Potensi dan Pemanfaatan Limbah Pertanian dan Limbah Industri Pertanian Sebagai Makanan Ternak di Kotamadya Padang (Tahun 1993).
- Penggunaan Daging Bekicot (Achatina Fulica) dalam Ransum Ayam Buras (Tahun 1994).
- Pengaruh Substitusi Ransum Starter dengan Tinja Ayam Petelur Terhadap Performance Ayam Buras (Tahun 1995).
- Efisiensi Penggunaan Energi Sehubungan dengan Kebutuhan Hidup Pokok Ayam Buras pada Periode Pertumbuhan (Tahun 1996).
- Respons Ayam Broiler di Didaerah Tropik terhadap Kelebihan asupan Energi dalam Upaya Menurunkan Kandungan Lemak Abdominal (Tahun 2002).
- Penelitian Pendahuluan Pola Pertumbuhan Differensial Ayam Broiler di Daerah Tropik (Tahun 2003).
- Pengaruh Pemberian Tepung Daun Kulit Manis Dalam Ransum Terhadap Performa Broiler (Tahun 2003).
- Penggunaan Tepung Buah Mengkudu dalam Ransum Broiler (Tahun 2004)
- Upaya Penurunan Lemak Tubuh Ayam Broiler Melalui Suplementasi Prekursor Karnitin Dalam Ransum Komersial Periode Grower (Tahun 2005)
- Penggunaan Energi di Atas Kebutuhan Hidup Pokok Pada Ayam Broiler Selama Umur 2-6 Minggu di Daerah Tropis (Tahun 2006)

L. RENCANA BIAYA
Biaya yang dibutuhkan dalam usaha kembang gula kelapa ini terdiri dari :
a. Biaya Pra operasional sebesar Rp. 500.000,- untuk biaya survey pasar dan izin.
b. Biaya Investasi peralatan sebesar Rp. 2.193.250,-
c. Biaya produksi perbulan sebesar Rp. 1.804.000,-
Sehingga total biaya yang dibutuhkan adalah sebesar Rp. 4.497.250 (empat juta empat ratus sembilan puluh tujuh ribu dua ratus lima puluh rupiah).

Rincian biaya adalah sebagai berikut :
1. Perhitungan biaya produksi 3.000 kembang gula per minggu
Biaya pengeluarananya :
a. Kelapa 30 buah @ Rp 3000,- = Rp 90.000,-
b. Gula 15 Kg @ Rp 10000,- = Rp 150.000,-
c. Kertas kup 3 bungkus @ 15000 = Rp 45.000,-
d. Minyak tanah 6 Liter @ 3500 = Rp 21.000,-
e. Kantong Plastik = Rp 30.000,-
f. Mutiara kue 5 Ons = Rp 30.000,-
g. Coklat batang 3 bungkus @ 15.000 = Rp 45.000,-
h. Biaya pemasaran = Rp 40.000,-
Total = Rp 451.000,-

2. Pendapatan per 1 kali produksi
Dari 1 buah kelapa dapat diproduksi 50 buah kue kembang gula. Maka untuk 30 buah kelapa, produksinya 1500 buah kue dengan harga kue @ 500,- . Jadi pendapatan yang dihasilkan untuk 1 periode produksi adalah :
1500 buah kue X Rp 500,- /buah = Rp 750.000,-
Dari pendapatan yang diperoleh selama 1 periode dapat diperoleh keuntungan :
Total Pendapatan – Biaya Pengeluaran =
Rp. 750.000,-  Rp. 451.000,- = Rp. 299.000,-
Apabila dalam 1 bulan dilakukan 4 kali produksi, jadi keuntungan yang diperoleh adalah :
Rp. 299.000,- × 4 = Rp. 1.196.000,-

3. Biaya Investasi Usaha Kembang Gula Kelapa KMM
No. Kegiatan Akun Banyak Harga/Rp/@ Sub Total Harga
Biaya Investasi
1. Pembelian kuali 1 Rp. 30.000,- Rp. 30.000,-
2. Sendok goreng 2 Rp. 10.000,- Rp. 20.000,-
3. Sendok cetak 2 Rp. 10.000,- Rp. 20.000,-
4. Parang 1 Rp. 50.000,- Rp. 50.000,-
5. Pisau 1 Rp. 9.750,- Rp. 9.750,-
6. Baskom 1 Rp. 10.500,- Rp. 10.500,-
7. Ember 1 Rp. 20.000,- Rp. 20.000,-
8. Wadah plastik 4 Rp. 50.000,- Rp. 200.000,-
9. Nampan 3 Rp. 20.000,- Rp. 60.000,-
10. Kompor Hock 2 Rp. 175.000,- Rp. 350.000,-
11. Oven 2 Rp. 500.000,- Rp.1.000.000,-
12 Sewa tempat 1 kamar Rp. 150.000,- Rp. 150.000,-
13. Staples+isi 1 Rp. 20.000,- Rp. 20.000,-
14. Blender 1 Rp. 120.000,- Rp 120.000,-
15. Sarung tangan 3 Rp. 3.000,- Rp 9.000,-
16. Serbet 3 Rp 3.000,- Rp 9.000,-
17. Alat tulis Rp. 100.000,-
18. Pemarut 3 Rp 5.000,- Rp. 15.000,-

Total Rp. 2.193.250,-

Biaya produksi per buah = Modal /jumlah produksi
= Rp 451.000,- /1500 buah
= Rp 300,67,- /buah
Harga jual = Rp 500,-
Laba yang diperoleh/buahnya = Rp 500,- Rp 300,67,- = Rp 199,33,-
Total laba = Rp 199,33,- x 1.500
= Rp 298.995,-

Perkiraan Break Even Point (BEP)
BEP dicapai bila total penerimaan = total biaya produksi
TC = TR
C x Q1 = P x Q2
Rp. 300,67,- x 1.500 = Rp. 500,- x Q2
Rp 451.000 = Rp. 500,- x Q2
Q2 = 902
% BEP = Q2/Q1 x 100%
= 902/1.500 x 100%
= 60,13%



Keterangan : TC = Total Cost (Total biaya produksi)
TR = Total Revenue (Total penerimaan)
C = Cost (Biaya/unit)
P = Price (Harga jual /unit)
Q1 = Quantity (Jumlah barang yang diproduksi)
Q2 = Quantity (Jumlah minimal barang yang harus dijual agar
tercapai BEP

























HALAMAN PENGESAHAN
USULAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

1. Judul Kegiatan : Kembang Gula Kelapa “KKM” Home
Industri
2. Bidang Kegiatan : PKMK
3. Bidang Ilmu : Sosial Ekonomi
4. Ketua Pelaksana Kegiatan
a. Nama Lengkap : Eka Oktaviana
b. NIM : 06 162 007
c. Jurusan/Program Studi : Nutrisi dan Makanan Ternak
d. Universitas : Universitas Andalas
e. Alamat Rumah dan No Telp/HP : Jl Tunggang, Kel Pasar Ambacang No
36 RT 02 RW 03,081363530302
f. Alamat Email : ek4_okta@yahoo.co.id
5. Anggota Pelaksana Kegiatan/Penulis : 2 orang
6. Dosen Pendamping
a. Nama lengkap dan Gelar : Dr, Ir Ahadiyah Yuniza, MS
b. NIP : 131 691 905
c. Alamat Rumah dan No Telp/HP : Komp Perumahan Unand Blok B/III/02/
10 Limau Manis Padang (0751) 72924
6.Biaya Kegiatan Total
a. Dikti : Rp 4.497.250,-
b. Sumber Lain : -
7. Jangka Waktu Pelaksanaan : 3 bulan


Padang, 15 Oktober 2009

Ketua Pelaksana



(Eka Oktaviana)
NIM. 06162007

Pembantu Rektor
Bidang Kemahasiswaan



(Dr. Ir. Badrul Mustafa Kemal, DEA)
NIP. 131642017






PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA



Judul Program
KEMBANG GULA KELAPA “KMM” HOME INDUSTRI




Bidang Kegiatan
PKM Kewirausahaan



DIUSULKAN OLEH :
EKA OKTAVIANA 06 162 007 (Ketua Pelaksana)
EVI YULIANTI 06 162 004 (Anggota Pelaksana)
AZHARI NURIDINAR 05 163 023 (Anggota Pelaksana)



UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2009

Sabtu, 10 Oktober 2009

Keju Sebagai Alternatif Minum Susu

By muharagus@yahoo.co.id
Bagi masyarakat di negara Barat, terutama Eropa, keju adalah makanan lazim yang tidak hanya sebagai teman makan roti, cheese cake atau cheesecake, cake keju, kue keju tapi juga menjadi paduan dalam berbagai menu makanan. Bahkan, bagi yang kurang suka minum susu, cheese cake atau kue keju bisa jadi pengganti. Ini karena keju berbahan dasar susu sehingga kandungan nutrisinya setara. Bagi masyarakat kita, keju masih dianggap sebagai makanan kelas menengah ke atas. Masyarakat yang biasa mengonsumsi keju atau cheesecake, sebagian besar masih sebatas mengonsumsi cake keju sebagai teman makan roti atau sebagai bahan pelengkap roti dan kue yang dapat ditemui di factory cheese cake atau cheesecake factory terdekat.

Keju, dalam kamus wikipedia, berasal dari kata Inggris kuno yaitu cese dan chiese, atau dari bahasa latin caseus. Dalam bahasa Jerman adalah kase, sedangkan di Prancis adalah fromage, serta Spanyol dan Italia menamakan produk ini sebagai queso dan formaggio. Keju terbuat dari bahan baku susu baik itu susu sapi, kambing, atau kerbau. Proses pembuatannya dilakukan dengan pembentukan dadih, setelah lebih dulu melakukan pasteurisasi terhadap susu untuk menghilangkan bakteri patogen sekaligus menghilangkan bakteri pengganggu dalam proses pembuatan dadih. Untuk produk yang sudah jadi anda bisa mengunjungi cheese cake bandung atau cheese cake tangerang terdekat.

Menurut pakar gizi dari Universitas Airlangga Surabaya, Dr dr Sri Adiningsih MS MCN, kandungan nutrisi dalam keju tergantung pada susu sebagai bahan dasarnya. Makin bagus kualitas susu dilihat dari kandungan nutrisinya, makin bagus pula kualitas keju tersebut seperti yang terdapat di cheese cake factory atau factory cheesecake. Makin tinggi kandungan lemak pada susu tersebut, makin tinggi pula kandungan lemak pada keju, sehingga dalam memilih keju yang cocok di factory cheese cake ataupun cheesecake factory, tinggal melihat pada kandungan gizi yang disesuaikan dengan kebutuhan tubuh kita. Kita tinggal menyesuaikan dengan usia dan kebutuhan gizi yang kita butuhkan, sehingga kita harus pintar-pintar membaca label gizi dalam kemasan makanan. Misalnya, makin bertambah usia kita atau memiliki berat badan berlebih, sebaiknya memilih keju berkadar lemak rendah. Anda bisa memilih keju yang sesuai di cheese cake factory atau factory cheesecake yang sudah dikenal banyak olah masyarakat. Biasanya terdapat cheese cake bandung atau cheese cake tangerang.

Kandungan gizi utama dalam keju, terdiri dari protein, kalsium, fosfor, zinc, vitamin A, lemak, dan zat lainnya. Laktosa, salah satu bahan dalam keju, adalah sumber karbohidrat utama. Kandungan gizi tersebut juga terdapat di cheesecake bandung dan cheesecake tangerang. Sayangnya, kandungan laktosa banyak yang hilang akibat proses pembuatan keju yang diproses dengan cara alamiah (tanpa teknologi). Dalam beberapa literatur, disebutkan ada beberapa jenis keju yang tidak boleh dikonsumsi wanita hamil yang dikhawatirkan mengandung bakteri berbahaya. Semisal jenis brie, camembert, blue cheese, yang merupakan jenis kejulunak, serta jenis lain yang dibuat dari susu kambing atau domba. Kesemua jenis keju tersebut dapat anda temui di cheesecake bandung dan cheesecake tangerang.

Sebaliknya, larangan itu belum bisa dibuktikan secara ilmiah karena baru sebatas dugaan. Bahkan, untuk mengonsumsi keju bagi wanita hamil yang sulit untuk minum susu karena pengaruh mual yang biasa dialami di usia kehamilan muda (3-4 bulan), agar mendapatkan nutrisi yang setara.

Kamis, 08 Oktober 2009

Cjemistry

KIMIA DASAR, BIOKIMIA, ILMU PANGAN HARUS SEGERA DILAHAP MINIMAL 1/2 BUKU SEBELUM KE LAB KIMIA TERAPAN MENGHADAPI WAJAH2 BARU DAN KEBISINGAN BARU

asisten kimia terapan baru nih