.::Wilujeung Sumping di Website Agus Muhar::.

Semoga site gratisan ini bukan hanya menambah literatur-literatur dalam dunia kepenulisan, tetapi juga lebih khusus untuk menambah khazanah keilmuan keislaman, karena di masa kebangkitan seperti sekarang ini (menurut sejarah islam) yang sebelumnya Islam di Andalusia (Spanyol) begitu kuat dan hebatnya, harus tunduk dan hancur oleh kaum Hulagu dari bangsa Bar-Bar, oleh karena itu kita pun di harapkan untuk selalu berkarya, baik melalui dunia kepenulisan, dunia jurnalistik maupun yang lainnya, karena memang tidak bisa kita pungkiri bahwa Islam khususnya yang ada di Indonesia ini sangat butuh dengan orang-orang yang profisional dalam bidangnya masing-masing.

Nah...site ini pun tampil untuk menunjukkan bahwa kami ingin menambah khazanah keislaman dalam berkarya, walaupun hanya sebutir debu di padang pasir, tetapi akan sangat bermakna jika kita mendalaminya, Amin

Kamis, 01 Januari 2009

DANUSKU #1


Pada awal-awal bulan November di Padang sering terjadi mati lampu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, begitu halnya dengan kota-kota lainnya di Indonesia.

Apabila ditengah malam gelap gulita karena mati lampu pada saat itu tidak ada penerang, lampu emergenci tidak ada, patromak pecah, bulan tidak dalam keadaan purnama. Tiba-tiba ada yang memberi kita lilin sebagai penerang sementara sambil menunggu hidup lampu. Apa yang harus saya lakukan? Ya, tentu saya ambil. Daripada gelap-gelapan.


Semester 2 aya tertarik sama yang namanya FSI karena satu hal yakni dari namanya Forum Studi Islam dari namanya saja kita sudah tahu apa itu FSI. Saya diajak untuk ikut berkontribusi didalamnya. Tapi sempat saya berpikir berkali-kali, kalau misalnya saya masuk FSI, bagaimana kuliah saya, apakah saya bisa mencapai target saya yang telah saya tuliskan dalam buku agenda, IP saya bagaimana. Paling sama dengan waktu SMA seperti rohis ataupun irema (ikatan remaja mesjid).

Saya teringat Surat Adz-Zariyat : 56, tentang tujuan penciftaan manusia, Muhammad: 7 dan Si Musa
Saya ceritakan sedikit tentang si Musa……..are u ready?
Musa adalah salah mahluk ciftaan Allah SWT. Dia mempunyai gelar sp spesies maksud saya, bukan sarjana pertanian. Orang science khususnya biologi ataupun pertanian pasti tahu musa alias p-i-s-a-n-g. Pohon pisang rasanya bukan satu jenis pohon yang asing dan yang langka bagi kita semua pasti sudah familiar ditelinga kita sehari-hari. Pohon berbatang lunak dan berdaun lebar itu rasanya masih kita dapat temukan disekeliling kita. Mungkin kini keberadaannya mulai tersaingi dengan ‘pohon-pohon lain’ yang berbatang beton. Keistimewaan pohon ini selalu tumbuh dimanapun tempat berada, dalam musim dan berbeda sekalipun.
Hampir seluruh anggota tubuh pohonnya dapat dimanfaatkan oleh manusia. Mulai dari akarnya untuk obat sakit perut, batangnya untuk tempat dekorasi pembuatan janur ataupun dalam proses mengkremasi mayat. Daunnya untuk pembungkus hingga buahnya yang lezat untuk dimakan ataupun dimasak.
Begitulah harusnya tiap kita, dapat memberikan manfaat bagi orang lain dengan segenap apa yang kita miliki. Beramal dan terus beramal dengan segala kemampuan dan talenta sekecil apapun yang kita punya.

Sebagaimana pohon pisang senantiasa dapat berbuah tanpa mengenal musim. Karena memang ia tak mengenal waktu dalam kebaikan. Tak mengenal masa dalam berbuat kebaikan. Memang seharusnya kontribusi tidak hanya dapat kita berikan pada saat-saat tertentu disaat kita menginginkannya. Karena kontinuitas dalam suatu kebermanfaatan akan senantiasa dapat menjaga stabilitas iman. Sehingga kita tidak mudah tumbang diterpa ‘hama’ yang selalu menggerogotikeikhlasan.

Untuk itu, pohon pisang akan menyimpan cadangan airnya pada musim hujan dan menggunakannya pada musim kemarau. Kita pun demikian, harus mengetahui disaat kita terasa tegar beramal dalam meniti jalan panjang kehidupan ini. Masing-masing kita tentunya pernah merasa sedemikian jenuh dan butuh nasihat dari orang lain ataupun merasa diri sangat dekat dengan sang Khalik. Karenanya manfaatkanlah masa-masa itu, karena tak semua bias kunjung ‘menjenguk’ ketika jiwa kita membuuthkan penyegaran. Simusa ini dalam habitat aslinya selalu hidup berkelompok. Jika ada si musa yang tumbuh menyendiri tentulah karena perbuatan manusia yang jika dibiarkan terus tumbuh akan membentuk komunitas pohon pisang juga. Untuk dapat bermanfaat dan berkontribusi bagi umat dan diri kita sendiri, kita membutuhkan teman sebagai penguat. Kita perlu orang lain untuk memacu dan memicu optimalisasi potensi kebermanfaatan kita.*

Ketika kondisi menuntut kita untuk mandiri, maka ‘ciftakanlah si musa yang lain’ sehingga kita tetap tak sendiri. Ya, untuk mencapai puncak produktifitas kontribusi, kita perlu berjama’ah. Sehingga kontribusi amal kita tak cepat mati. Pohon pisang pun umumnya tak akan mati sebelum ia berbuah. Ia senantiasa meninggalkan tunas-tunas baru sebelum akhirnya ia mati. Sebelum ajal kita tiba, sebelum akhirnya kita harus pergi meninggalkan duniaini, sudahkah kita menyiapkan generasi berkualitas yang dapat meneruskan keberlangsungan konstribusi kita yang lebih baikbagi lingkungan? Sudahkah kita tinggalkan kader-kader unggul yang siap untuk terus beramal dan memberikan kebermanfaatan bagi alam? Jika belum, siapkanlah.
Hidup ini terlalu sempit kalau hanya memikirkan diri sendiri kuliah bagaimana, IP bagaimana, kuliah mau tamat berapa waktu. Ini mah ketik C spasi D alias cape deh. Hidup ini teramat singkat kalau tanpa kebermanfaatan kita bagi orang lain. Dan untuk itu, sebenarnya kita tak perlu sebesar pohon jati ataupun setinggi pohon pinang untuk dapat memberikan manfaat. Yang terpenting adalah kontribusi nyata. Dan biarlah Allah SWT yang akan menilai dan memberikan balasan. “Sebaik-baiknya kamu adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain” (HR. Bukhari).
To be continued for danus #2
*Wahyu

Tidak ada komentar: